Site icon Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Al Khairiyah

Tren Seni Instalasi Bertema Gunung di Pameran Nasional 2024

Pameran Nasional 2024 meninggalkan jejak yang cukup dalam di dunia seni rupa Indonesia. Dua tahun berselang, pada 2026, dampaknya masih terasa — terutama karena satu tren yang mencuri perhatian begitu kuat: seni instalasi bertema gunung. Bukan sekadar gunung sebagai latar belakang estetik, tapi gunung sebagai metafora, sebagai ruang spiritual, sebagai tubuh alam yang berbicara kepada pengunjung galeri.

Tidak sedikit yang datang ke pameran itu tanpa ekspektasi khusus, lalu pulang dengan perasaan yang susah dijelaskan. Banyak orang mengalami momen berdiri di tengah instalasi berskala besar, dikelilingi proyeksi kabut dan suara angin lereng, merasa seperti benar-benar sedang berada di kaki sebuah gunung. Itu bukan kebetulan. Para seniman memang merancangnya untuk mengubah pengalaman fisik menjadi perjalanan emosional.

Jadi, apa yang membuat tren ini begitu kuat meledak di 2024 dan terus relevan hingga sekarang? Mari kita bedah pelan-pelan.


Mengapa Seni Instalasi Bertema Gunung Mendominasi Pameran Nasional 2024

Gunung punya tempat tersendiri dalam budaya Indonesia. Dari Semeru yang disakralkan, Merapi yang ditakuti sekaligus dihormati, hingga Rinjani yang jadi jalur ziarah bagi banyak generasi muda — gunung bukan cuma bentang alam. Ia adalah karakter.

Para kurator Pameran Nasional 2024 rupanya membaca ini dengan cermat. Mereka memberikan ruang luas bagi seniman yang mengangkat tema gunung, bukan dari sisi romantisasi alam semata, tapi dari sisi kritik ekologi, identitas kultural, dan spiritualitas lokal yang semakin terkikis. Hasilnya? Instalasi-instalasi yang tidak hanya indah, tapi juga menggugat.

Seniman yang Menggerakkan Tren Ini

Beberapa nama tampil menonjol. Yusuf Tamrin dari Yogyakarta, misalnya, menghadirkan instalasi berjudul Akar di Puncak — sebuah struktur rangka baja setinggi empat meter yang dibungkus akar-akaran kering dan diproyeksikan dengan bayangan pohon yang terus tumbuh dan mati bergantian. Pesan soal deforestasi lereng gunung disampaikan tanpa satu kata pun tertulis.

Ada pula kolektif seniman dari Bandung yang memanfaatkan abu vulkanik asli dari erupsi gunung-gunung Jawa sebagai medium melukis. Material ini memberikan dimensi tekstur dan makna sekaligus — sesuatu yang tidak bisa direproduksi secara digital, dan justru di situlah kekuatannya.

Elemen Visual dan Sensori yang Digunakan

Coba bayangkan masuk ke sebuah ruangan di mana lantainya tertutup pasir hitam bertekstur, suhu terasa sedikit lebih dingin dari biasanya, dan dari langit-langit menggantung ratusan potongan kain putih yang bergerak seperti awan bergeser. Itulah pendekatan multisensori yang jadi ciri khas instalasi bertema gunung di pameran ini.

Para seniman tidak lagi puas hanya dengan visual. Mereka mengintegrasikan bunyi, tekstur, aroma, bahkan perubahan suhu untuk menciptakan pengalaman imersif yang total. Teknik ini sejalan dengan perkembangan seni kontemporer global, tapi akarnya tetap lokal — mengambil filosofi gunung dalam kepercayaan Jawa, Bali, Sunda, dan Batak.


Warisan Tren Ini dan Pengaruhnya pada Seni Rupa Indonesia Pasca-2024

Dua tahun setelah pameran berakhir, tren ini tidak sekadar menjadi catatan sejarah. Ia justru membuka babak baru dalam cara seniman Indonesia mendekati tema-tema alam dan identitas.

Lahirnya Gerakan Seni Ekologi Berbasis Budaya Lokal

Pameran Nasional 2024 secara tidak langsung memantik gerakan yang kini banyak disebut sebagai ecological art berbasis narasi lokal. Bukan alam yang dieksotisasi untuk konsumsi estetik, tapi alam yang dikembalikan ke posisinya sebagai subjek — bukan objek.

Di 2026, sudah muncul puluhan pameran skala lebih kecil di Jogja, Makassar, dan Manado yang mengambil semangat yang sama: menggunakan material, filosofi, dan ekosistem lokal sebagai inti karya.

Dampak pada Apresiasi Publik dan Pasar Seni

Menariknya, tren ini tidak hanya menggerakkan komunitas seni. Kolektor yang sebelumnya hanya tertarik pada lukisan konvensional mulai melirik instalasi bertema lingkungan dan alam. Nilai estetik yang berpadu dengan pesan relevan membuat karya-karya ini terasa “hidup” dan kontekstual.

Tidak sedikit lembaga budaya dan institusi pendidikan mulai mengakuisisi karya-karya serupa untuk koleksi permanen mereka. Ini sinyal kuat bahwa pasar seni Indonesia sedang bergeser ke arah yang lebih kontemplatif dan sadar konteks.


Kesimpulan

Tren seni instalasi bertema gunung di Pameran Nasional 2024 bukan muncul dari ruang kosong. Ia lahir dari keresahan nyata para seniman terhadap alam yang makin rentan dan identitas budaya yang makin perlu dirawat. Gunung, dalam konteks ini, menjadi bahasa yang paling jujur — besar, diam, tapi penuh makna.

Hingga 2026, warisan tren ini terus membentuk wajah seni rupa Indonesia yang lebih berani dan mengakar. Kalau Anda belum sempat menyaksikan langsung karya-karya yang lahir dari semangat ini, banyak galeri kini mulai mendokumentasikannya secara terbuka. Alam menunggu untuk didengarkan — dan para seniman sudah lebih dulu menyimaknya.


FAQ

Apa itu seni instalasi bertema gunung dan kenapa populer di Indonesia?

Seni instalasi bertema gunung adalah karya seni tiga dimensi yang menggunakan gunung — baik secara visual, material, maupun filosofis — sebagai inti ekspresi artistik. Populer di Indonesia karena gunung memiliki dimensi budaya, spiritual, dan ekologis yang sangat kaya dalam berbagai tradisi lokal.

Bagaimana cara menikmati seni instalasi imersif bagi pengunjung awam?

Tidak perlu latar belakang seni untuk menikmatinya. Cukup datang dengan pikiran terbuka, berikan waktu untuk benar-benar berada di dalam ruang instalasi, rasakan elemen sensorinya, dan biarkan interpretasi datang secara alami tanpa terburu-buru mencari “makna yang benar.”

Apakah tren ini hanya berlaku untuk seniman dari Jawa?

Tidak sama sekali. Justru salah satu kekuatan tren ini adalah keragamannya — seniman dari Sulawesi, Nusa Tenggara, hingga Sumatra turut berkontribusi dengan membawa perspektif gunung dari budaya masing-masing, sehingga hasilnya jauh lebih kaya dari sekadar satu sudut pandang.

Exit mobile version