Site icon Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Al Khairiyah

Peluang Bisnis Menjanjikan dari Tren Drama Korea di Indonesia

Tahun 2026, nama-nama seperti Song Joong-ki, IU, atau drama Squid Game sudah bukan sekadar hiburan — mereka adalah gaya hidup. Di Indonesia, fenomena Korean Wave atau Hallyu bukan lagi tren sesaat yang akan memudar begitu saja. Jutaan penonton aktif mengikuti drama Korea setiap minggunya, mulai dari ibu rumah tangga di Surabaya hingga mahasiswa di Makassar. Peluang bisnis dari tren drama Korea di Indonesia ternyata jauh lebih besar dari yang banyak orang kira.

Menariknya, tidak sedikit pelaku usaha yang awalnya hanya iseng membuka toko merchandise K-drama justru menemukan tambang emas di sana. Mereka tidak punya modal besar, tidak punya latar belakang bisnis formal, tapi mereka punya satu hal: pemahaman mendalam tentang apa yang diinginkan para penggemar. Dari situlah semuanya bermula.

Nah, kalau Anda sedang mencari celah bisnis yang punya pasar loyal, tumbuh organik, dan tidak akan sepi dalam waktu dekat — industri di seputar K-drama layak masuk daftar pertimbangan Anda. Bukan karena ikut-ikutan, tapi karena datanya memang bicara keras.


Segmen Bisnis yang Tumbuh Pesat Berkat Demam K-Drama

Drama Korea bukan cuma tayang lalu ditonton. Ada ekosistem penuh yang terbentuk di sekitarnya — mulai dari fashion, makanan, hingga konten digital. Setiap serial baru yang rilis membawa gelombang permintaan baru dari para penggemarnya.

Merchandise dan Produk Bertema K-Drama

Coba bayangkan berapa banyak orang yang ingin memiliki totebag bergambar karakter favorit mereka, atau hoodie dengan tulisan dalam hangul yang terinspirasi dari dialog ikonik sebuah drama. Pasar merchandise K-drama di Indonesia tumbuh diam-diam tapi konsisten.

Cara memulainya pun tidak rumit. Banyak penjual memanfaatkan platform print-on-demand untuk menekan biaya produksi — artinya modal awal bisa ditekan seminimal mungkin. Yang perlu diasah adalah kepekaan terhadap tren: drama mana yang sedang naik daun, karakter mana yang paling banyak dicari, dan kapan waktu yang tepat untuk merilis produk baru. Contoh nyatanya bisa dilihat dari seller-seller di Tokopedia dan Shopee yang penjualannya melonjak setiap kali drama besar sedang tayang.

Bisnis Kuliner Bertema Korea

Tren makanan Korea sudah lama berjalan, tapi K-drama terus menjadi “mesin iklan” gratis yang paling efektif. Setiap kali karakter drama terlihat makan tteokbokki atau ramyeon di malam hujan, esok harinya pencarian menu itu meningkat drastis.

Peluang bisnis kuliner Korea yang menjanjikan tidak harus selalu berupa restoran besar. Cloud kitchen dengan menu spesifik, booth di bazaar kuliner, hingga paket hamper makanan snack Korea impor — semuanya punya permintaan nyata. Tips penting di sini: jangan hanya jual rasanya, jual juga experience-nya. Kemasan yang aesthetic, nama menu yang relate dengan K-drama populer, dan strategi media sosial yang kuat bisa menjadi pembeda utama.


Peluang di Ranah Digital yang Sering Terlewatkan

Banyak orang terlalu fokus pada produk fisik, padahal peluang bisnis berbasis konten dan layanan digital dari ekosistem K-drama justru menawarkan margin yang lebih tinggi dengan overhead yang lebih rendah.

Konten Kreator dan Affiliate Marketing

Kanal YouTube, akun TikTok, atau blog yang membahas rekomendasi drama Korea, review episode, hingga thread analisis karakter punya audiens yang sangat engaged. Monetisasinya beragam: dari iklan, sponsored content brand Korea, hingga affiliate link ke layanan streaming berbayar.

Manfaat menjadi kreator konten di niche ini adalah loyalitas audiensnya luar biasa. Penggemar K-drama cenderung kembali ke kreator yang mereka percaya untuk mendapat rekomendasi terbaru. Tidak sedikit kreator konten Indonesia yang berhasil membangun income bulanan stabil hanya dari konten seputar K-drama.

Jasa Subtitle, Terjemahan, dan Kursus Bahasa Korea

Permintaan terhadap subtitle drama Korea — terutama yang cepat dan akurat — masih sangat tinggi. Selain itu, tren belajar bahasa Korea di kalangan anak muda Indonesia terus meningkat karena banyak yang ingin menonton drama tanpa subtitle.

Jasa kursus bahasa Korea online, baik lewat Zoom maupun konten berjenjang di platform kursus, punya pasar yang terdefinisi jelas. Target audiensnya: penggemar K-drama usia 17–30 tahun yang ingin memahami bahasa favoritnya secara langsung. Ini bukan sekadar kursus biasa — ini bisnis yang menjual passion.


Kesimpulan

Peluang bisnis dari tren drama Korea di Indonesia bukan sekadar euforia sesaat. Ini adalah ekosistem yang sudah matang, punya basis konsumen loyal, dan terus berkembang seiring platform streaming global semakin agresif memproduksi konten Korea. Siapa pun yang bisa masuk dengan pemahaman mendalam tentang komunitas ini akan menemukan pasar yang hangat dan responsif.

Jadi, apakah Anda sudah siap mengambil bagian? Kuncinya bukan menunggu tren berikutnya — tapi memahami bahwa tren ini sendiri sudah cukup besar untuk ditindaklanjuti hari ini. Mulai dari skala kecil, validasi pasar, dan tumbuh bersama komunitas yang memang sudah ada.


FAQ

Apakah bisnis merchandise K-drama masih menguntungkan di 2026?

Ya, selama ada drama baru yang rilis, permintaan merchandise akan terus ada. Kuncinya adalah kecepatan dalam membaca tren dan fleksibilitas produk — model print-on-demand memungkinkan Anda masuk pasar tanpa risiko stok menumpuk.

Berapa modal awal yang dibutuhkan untuk memulai bisnis kuliner bertema Korea?

Bergantung pada formatnya. Untuk cloud kitchen atau booth bazaar, modal awal bisa dimulai dari Rp 3–10 juta. Investasi terbesar biasanya bukan di dapur, melainkan di branding dan konten media sosial yang menarik perhatian.

Apakah harus bisa bahasa Korea untuk membuka kursus atau bisnis konten K-drama?

Tidak harus fasih di level native, tapi kemampuan dasar hingga menengah sangat membantu membangun kredibilitas. Banyak kreator konten sukses yang juga belajar bersamaan dengan audiensnya — justru itu yang membuat mereka terasa relate dan autentik.

Exit mobile version